DAMPAK KONDISI INFRASTRUKTUR TERHADAP BIAYA
LOGISTIK DI INDONESIA
Ketika keadaan infrastruktur di sebuah negeri lemah, itu berarti
bahwa perekonomian negara itu berjalan dengan cara yang sangat tidak efisien.
Biaya logistik yang sangat tinggi, berujung pada perusahaan dan bisnis yang
kekurangan daya saing (karena biaya bisnis yang tinggi). belum lagi adengan
munculnya ketidakadilan sosial, misalnya, sulit bagi sebagian penduduk
untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan, atau susahnya anak-anak pergi ke
sekolah karena perjalanannya terlalu susah atau mahal.
Pembangunan infrastruktur dan pengembangan ekonomi makro
seharusnya memiliki hubungan timbal balik, karena pembangunan infrastruktur
menimbulkan ekspansi ekonomi melalui efek multiplier. Sementara ekspansi
ekonomi menimbulkan kebutuhan untuk memperluas infrastruktur yang ada, untuk
menyerap makin besarnya aliran barang dan orang yang beredar atau bersirkulasi
di seluruh perekonomian. Namun, kalau infrastrukturnya tidak dapat menyerap
peningkatan kegiatan ekonomi (dan tidak cukup banyak infrastruktur baru yang
dikembangkan) maka akan terjadi masalah -- mirip dengan arteri yang tersumbat
dalam tubuh manusia, yang menyebabkan kondisi bahaya yang mengancam kehidupan
karena darahnya tidak bisa mengalir. Ini menjelaskan situasi paradoks bahwa
buah yang diproduksi di dalam negeri bisa saja lebih mahal dibandingkan dengan
buah yang diimpor dari luar negeri. Beberapa tahun yang lalu konsumen di
Jakarta sering mengeluh karena jeruk impor dari China lebih murah di
supermarket-supermarket di Jakarta dibandingkan dengan jeruk buatan Indonesia
sendiri. Selanjutnya, biaya logistik yang tinggi di
Indonesia bisa menyebabkan perbedaan harga yang substansial di antara provinsi-provinsi
di nusantara.Misalnya, beras atau semen jauh lebih mahal di
Indonesia bagian timur daripada di pulau Jawa atau Sumatra karena biaya
tambahan yang timbul dari titik produksi ke end user. Dengan kata lain, jaringan
perdagangan yang lemah di Indonesia, baik antar-pulau dan intra-pulau,
menyebabkan tekanan inflasi berat pada produk yang diproduksi dalam negeri.
Infrastruktur yang kurang memadai juga mempengaruhi daya tarik
iklim investasi di Indonesia. Investor asing penuh kekhawatiran untuk
berinvestasi di, misalnya, fasilitas manufaktur di Indonesia kalau pasokan
listrik tidak pasti atau biaya transportasi sangat tinggi. Kenyataannya,
Indonesia sering diganggu pemadaman listrik, meskipun negeri ini dinyatakan
berkelimpahan sumber daya energi. Kasus pemadaman listrik cukup lumrah terjadi
di daerah-daerah selain Jawa dan Bali
Menurut data yang diterbitkan oleh Kamar Dagang Indonesia dan
Industri (Kadin Indonesia), dari total pengeluaran perusahaan di Indonesia,
sekitar 17 persen diserap oleh biaya logistik. Padahal dalam ekonomi negara-negara
tetangga, angka ini hanya di bawah sepuluh persen. Hal-hal
demikian jelas membuat para investor berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk
berinvestasi di Indonesia. Sementara itu, masalah logistik yang tidak efisien
(yang mencakup bidang transportasi, pergudangan, konsolidasi kargo, clearance perbatasan,
distribusi dan sistem pembayaran) menghambat peluang para pengusaha untuk
memperluas bisnis mereka.
Pemerintah
Indonesia & Pembangunan Infrastruktur
Pemerintah Indonesia sadar akan
pentingnya untuk memperbaiki keadaan infrastruktur sehingga iklim investasi dan
bisnis menjadi lebih menarik. Saat ini, tidak ada cukup banyak jalan,
pelabuhan, bandara, dan jembatan di Indonesia (ekonomi terbesar di Asia
Tenggara), sedangkan - tidak jarang - kualitas infrastruktur yang sudah ada
tidak memadai. Namun, pengembangan infrastruktur Indonesia (baik infrastruktur
keras maupun lunak) bukanlah tugas yang mudah. Nusantara terdiri dari sekitar
17,000 pulau (meskipun banyak dari pulau-pulau ini tidak ada penghuni dan tidak
menunjukkan aktivitas ekonomi). Karena berbentuk kepulauan lebih kompleks (dan
lebih mahal) untuk meningkatkan konektivitas dan menyiratkan ada kebutuhan
untuk fokus pada infrastruktur maritim.
Buruknya daya dukung infrastruktur menjadi
faktor utama tingginya biaya logistik. Jalan sebagai prasarana transportasi
yang paling banyak digunakan, masih terdapat 17,25 persen dalam kondisi buruk.
Masih sedikit simpul-simpul yang menghubungkan sistem transportasi multimoda.
Tingginya biaya logistik merupakan menjadi salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi daya saing perekonomian di Indonesia sehingga bisa menyebabkan
turunnya iklim investasi. Biaya logistik di Indonesia yang masih berkisar 17
persen dari biaya produksi. Hal ini menyebabkan tingginya biaya produksi,
sehingga dapat menurunkan daya beli pada suatu produk. Manajemen pengelolaan
kegiatan transportasi masih menghadapi kendala dalam bentuk terbatasnya SDM
yang berkualitas dan profesional dalam bidang transportasi, hambatan
kelembagaan, daya dukung perkembangan intramoda dan multimoda yang masih
kurang, penggunaan teknologi maju dalam pengelolaan transportasi yang masih
minim dikarenakan terbatasnya dana.
Perbandingan
infrastruktur Indonesia dengan beberapa
Negara ASEAN seperti
Vietnam , Malaysia , Thailand dan Singapura
1. Vietnam
Saat
ini, Vietnam menjadi salah satu bintang dalam jajaran Negara berkembang (emerging markets).
Pertumbuhan ekonominya mencapai sekitar 6-7 persen, di atas pertumbuhan ekonomi
Indonesia. Ekspor menjadi pendorong pertumbuhan ekonominya. Barang-barang merek
Nike dan telepon seluler merek Samsung diproduksi di negara tersebut.
Bagaimana keajaiban terjadi? Berdasarkan analisis Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi Vietnam dapat dijelaskan dalam tiga faktor utama.
Vietnam dinilai mampu merangkul liberalisasi perdagangan sepenuhnya dengan mendorong reformasi domestik melalui deregulasi dan upaya menurunkan biaya bisnis. Para Analis menunjuk pada berbagai perjanjian perdagangan bebas yang telah ditandatangani Vietnam dalam 20 tahun terakhir. Pada tahun 1995, Viet Nam bergabung dengan kawasan perdagangan bebas ASEAN.
Bagaimana keajaiban terjadi? Berdasarkan analisis Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi Vietnam dapat dijelaskan dalam tiga faktor utama.
Vietnam dinilai mampu merangkul liberalisasi perdagangan sepenuhnya dengan mendorong reformasi domestik melalui deregulasi dan upaya menurunkan biaya bisnis. Para Analis menunjuk pada berbagai perjanjian perdagangan bebas yang telah ditandatangani Vietnam dalam 20 tahun terakhir. Pada tahun 1995, Viet Nam bergabung dengan kawasan perdagangan bebas ASEAN.
Pada
tahun 2000, mereka menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan AS, dan
pada 2007 bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Sejak saat itu,
perjanjian ASEAN selanjutnya diikuti dengan Cina, India, Jepang dan Korea, dan
hanya tahun ini, Kemitraan Trans-Pasifik yang telah diubah diberlakukan -
meskipun tanpa AS. Efek kumulatif dari semua perjanjian ini secara bertahap
menurunkan tarif yang diberlakukan pada impor dan ekspor ke dan dari Vietnam. Dorongan
pemerintah Vietnam menuju ekonomi terbuka juga termasuk reformasi domestik.
Pada tahun 1986 negara ini menciptakan Undang-Undang pertama tentang Penanaman
Modal Asing, yang memungkinkan perusahaan asing masuk ke Vietnam.
Dalam Laporan Daya Saing Global Forum Ekonomi Dunia, peringkat Vietnam naik dari peringkat 77 di tahun 2006 menjadi 55 pada 2017. Di peringkat Ease of Doing Business Bank Dunia, sementara itu, Vietnam naik dari peringkat 104 pada tahun 2007 menjadi peringkat 68 di tahun 2017. Vietnam menginggalkan Indonesia yang berada di peringkat 72. Bank Dunia menyebut Vietnam membuat kemajuan dalam segala hal mulai dari menegakkan kontrak, meningkatkan akses ke kredit dan listrik, membayar pajak dan perdagangan lintas batas. Vietnam juga mulai banyak berinvestasi pada sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur. Investasi itu membuahkan hasil. Berbekal infrastruktur yang diperlukan dan dengan kebijakan yang ramah pasar, Viet Nam menjadi pusat investasi dan manufaktur asing di Asia Tenggara. Perusahaan elektronik Jepang dan Korea seperti Samsung, LG, Olympus dan Pioneer serta pembuat pakaian Eropa dan Amerika yang tak terhitung jumlahnya mendirikan toko di negara ini. Pada 2017, Financial Times melaporkan, Vietnam adalah eksportir pakaian terbesar di kawasan ASEAN dan eksportir elektronik terbesar kedua setelah Singapura.
Dalam Laporan Daya Saing Global Forum Ekonomi Dunia, peringkat Vietnam naik dari peringkat 77 di tahun 2006 menjadi 55 pada 2017. Di peringkat Ease of Doing Business Bank Dunia, sementara itu, Vietnam naik dari peringkat 104 pada tahun 2007 menjadi peringkat 68 di tahun 2017. Vietnam menginggalkan Indonesia yang berada di peringkat 72. Bank Dunia menyebut Vietnam membuat kemajuan dalam segala hal mulai dari menegakkan kontrak, meningkatkan akses ke kredit dan listrik, membayar pajak dan perdagangan lintas batas. Vietnam juga mulai banyak berinvestasi pada sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur. Investasi itu membuahkan hasil. Berbekal infrastruktur yang diperlukan dan dengan kebijakan yang ramah pasar, Viet Nam menjadi pusat investasi dan manufaktur asing di Asia Tenggara. Perusahaan elektronik Jepang dan Korea seperti Samsung, LG, Olympus dan Pioneer serta pembuat pakaian Eropa dan Amerika yang tak terhitung jumlahnya mendirikan toko di negara ini. Pada 2017, Financial Times melaporkan, Vietnam adalah eksportir pakaian terbesar di kawasan ASEAN dan eksportir elektronik terbesar kedua setelah Singapura.
Pertumbuhan
ekonomi pun kemudian mengikuti. Sejak 2010, pertumbuhan PDB Vietnam mencapai 5
persen per tahun, dan pada 2017 bahkan mencapai 6,8 persen. Dengan pertumbuhan
ekonomi yang cepat, negara ini tumbuh dari salah satu negara termiskin di dunia
menjadi negara berpenghasilan menengah. PDB per kapita yang sebelumnya
hanya US$230 pada tahun 1985, naik lebih dari sepuluh kali lipat pada 2017
menjadi US$2.343. Salah satu yang terpenting, pertumbuhan ekonomi merreka
cukup inklusif. Menurut Indeks Pembangunan Inklusif Forum Ekonomi Dunia,
Vietnam adalah bagian dari kelompok ekonomi yang telah melakukan sangat baik
dalam membuat proses pertumbuhan mereka lebih inklusif dan berkelanjutan. Namun,
satu kelemahan yang penting adalah pendekatan pemerintah terhadap hak asasi
manusia dan privasi. Kebebasan pers adalah salah satu yang terburuk di
dunia. Kendati ekonominya tengah tumbuh, keinginan globalisasi yang kian
berkurang di berbagai belahan dunia, Vietnam terlihat sangat rentan, seperti
yang dilaporkan Financial Times awal tahun ini. Ekspornya yang bernilai 99,2
persen dari PDB banyak berasal dari keberhasilannya pada investasi dan
perdagangan asing. Sebagai pasar yang sedang berkembang, mungkin juga tidak
disukai sebagai tempat untuk berinvestasi karena penguatan dolar.Namun untuk
saat ini, Vietnam justru diuntungkan dengan meningkatkan ketegangan perdagangan
global. Pemerintah AS telah mengenakan kenaikan tarif pada impor produk China
senilai ratusan miliar dolar sehingga menyebabkan perusahaan dengan lokasi
manufaktur di China mempertimbangkan untuk pindah ke negara-negara seperti
Vietnam.Negara ini kini tengah menjadi tuan rumah bagi perhelatan World
Economic Forum (WEF). WEF merupakan salah satu ajang pertemuan bergengsi di
bidang ekonomi yang biasanya dihadiri oleh para pemimpin dunia dan para menteri
ekonomi berbagai negara. Ajang ini juga dihadiri para pemimpin
perusahaan-perusahaan bergengsi guna membahas kondisi perekonomian dunia
terkini.
2. Malaysia
Malaysia memiliki jalan-jalan besar yang
menghubungkan semua kota besar di pesisir barat Semenanjung Malaysia. Pada
2006, panjang keseluruhan Sistem Jalur
Cepat Malaysia adalah 1.471,6 kilometer. Jejaring itu
menghubungkan semua kota besar dan sekitarnya: Klang Valley, Johor Bahru,
dan Penang satu
sama lain. Jalur motor utama (E1 dan E2, E1 adalah bagian Utara Kuala Lumpur,
sedangkan E2 adalah bagian selatan), terentang dari ujung utara dan selatan
Semenanjung Malaysia, masing-masing di Bukit Kayu Hitam dan Johor Bahru. Jalur
itu bagian dari Jaringan
Jalur Cepat Asia, yang juga menghubungkan Thailand dan Singapura. Jalan di Malaysia Timur dan pesisir timur
Semenanjung Malaysia relatif kurang terbangun. Semua itu berupa jalan yang
sangat berkelok-kelok melewati pegunungan dan belum dilapisi aspal, jalan
berkerikil. Akibatnya, sungai masih menjadi jalur transportasi penting, di
samping pesawat udara sebagai modus utama atau
alternatif transportasi bagi penduduk pedalaman. Jasa
kereta api di Malaysia Barat dioperasikan oleh Keretapi Tanah Melayu dan memiliki
rel cukup banyak yang menghubungkan semua kota besar dan kota kecil di
semenanjung, yang juga melebar hingga Singapura.
Juga ada rel pendek di Sabah yang dioperasikan oleh Sabah State Railway yang
utamanya mengangkut komoditas. Ada
juga beberapa pelabuhan di negara ini. Pelabuhan besar utama Malaysia
adalah Pelabuhan Klang di Selangor dan Pelabuhan Tanjung Pelepas di Johor.
Pelabuhan penting lainnya dapat ditemukan di Tanjung Kidurong, Kota Kinabalu, Kuching, Kuantan, Pasir Gudang, Penang, Miri, Sandakan,
dan Tawau.
Bandar Udara ditemukan
di pelosok negara. Bandar Udara Internasional Kuala
Lumpur (KLIA) adalah bandar udara terbesar di negara ini.
Bandar udara penting lainnya termasuk Bandar Udara Internasional Kota
Kinabalu, Bandar Udara Internasional Penang, Bandar Udara Internasional Kuching, Bandar Udara Internasional Langkawi,
dan Bandar Udara Internasional Senai.
Ada juga bandar udara di kota-kota kecil, juga pelabuhan udara perintis
domestik di kawasan perkotaan Sabah dan Sarawak. Terdapat jasa penerbangan
harian yang menghubungkan Timur dan Barat Malaysia. Malaysia adalah rumah bagi
maskapai udara murah di kawasan ini, AirAsia.
AirAsia berbasis di Sepang dan memiliki penerbangan ke Asia Tenggara dan
Tiongkok. Jasa
telekomunikasi antarkota disediakan di Malaysia Barat terutama oleh riley radio
gelombang pendek.
Telekomunikasi internasional disediakan
melalui kabel bawah laut dan satelit. Salah satu perusahaan telekomunikasi
terpenting dan terbesar di Malaysia adalah Telekom
Malaysia (TM), yang menyediakan produk-produk dan pelayanan
dari sambungan tetap, sambungan bergerak, juga jasa akses Internet dial-up dan broadband.
TM memiliki semi-monopoli jasa sambungan telepon tetap di negara ini. Pada Desember 2004, Menteri Energi, Air, dan
Komunikasi Lim Keng Yaik melaporkan
bahwa hanya 0,85% atau 218.004 orang di Malaysia menggunakan jasa broadband.
Tetapi, angka ini didasarkan pada banyaknya pelanggan, sedangkan satuan
persentase rumah tangga mencerminkan situasi lebih akurat. Ini menggambarkan
kenaikan 0,45% di tiga triwulan. Dia juga melaporkan bahwa pemerintah
menargetkan penggunaan 5% pada 2006 dan berlipat dua menjadi 10% pada 2008. Lim
Keng Yaik mendorong perusahaan-perusahaan telekomunikasi lokal dan penyedia
jasa untuk membuka mil terakhir dan harga lebih murah agar menguntungkan
pengguna.
3. Thailand
BANGKOK. Pemerintah
Thailand akan mengerek pertumbuhan ekonomi dengan cara berinvestasi
besar-besaran di sektor infrastruktur. Thailand menganggarkan dana sekitar US$
40 miliar untuk proyek infrastruktur. Namun, hingga kini jumlah yang
dibelanjakan masih kurang dari 1%. Salah satu proyek besar yang akan digarap
adalah jalur rel Thai Chinese.
Proyek tersebut
berjalan setelah 13 kegagalan pertemuan bilateral. Perbedaan pendapat atas
biaya, cara pembiayaan dan hak atas tanah membuat proyek ini tak juga jalan.
Kini, Thailand memantapkan hati untuk memulai proyek jalur rel sendiri.
Junta militer alias
Dewan Nasional Perdamaian dan Ketertiban yang menguasai Thailand lewat kudeta
pada 2014 telah menyetujui beberapa proyek. Ada 20 usulan proyek besar hingga
tahun 2022.
Menteri
Transportasi Thailand memperkirakan proyek tersebut menelan biaya THB 1,41
triliun setara dengan US$ 40,63 miliar. Hingga 19 Agustus 2016, pemerintah baru
mencairkan sekitar THB 11,3 miliar atau 0,8% dari total. Ekonom Bank Dunia,
Kiatipong Ariyapruchya seperti dikutip Reuters mengatakan, anggaran tersebut
berpotensi tidak terserap seluruhnya. "Ada risiko Thailand tidak bisa
melaksanakan semua rencana infrastruktur publik," ujar dia.Penyebabnya
adalah lambatnya pengadaan proyek, serta panjangnya proses persetujuan dan penilaian
dampak lingkungan. Akibatnya, peringkat infrastruktur Thailand dalam indeks
daya saing global forum ekonomi dunia jatuh. Jika pada tahun 2006-2007,
Thailand ada di peringkat ke 38 pada tahun 2015-2016 jatuh ke level 44.
Sementara Indonesia, justru naik dari 89 menjadi 62 pada periode yang sama.Pada
semester I-2016, pertumbuhan ekonomi Thailand naik tipis dibantu investasi
pemerintah yang tinggi. Tapi ekspor dan konsumsi domestik melemah. Investasi
swasta juga turun dalam tiga tahun terakhir.
Menteri Keuangan
Thailand Apisak Tantivorawong mengatakan, tanpa investasi swasta pemulihan
ekonomi akan lambat. Karena itu, Bank Sentral Thailand memilih mempertahankan
suku bunga mendekati rekor terendah selama lebih dari setahun.Investasi publik
masih tumbuh 30% menjadi THB 865 miliar dari akhir tahun lalu. Bank of Thailand
memprediksi, pertumbuhan ekonomi Thailand pada tahun ini bisa mencapai 3,1%. Sementara
itu, Bank Dunia melihat pertumbuhan ekonomi Negeri Gajah Putih hanya 2,5% dari
tahun lalu sebesar 2,8%.
4. Singapura
Infrastruktur transportasi lokal meliputi
sebuah sistem
transportasi darat di seluruh pulau yang terdiri dari serangkaian
jalan ekspres. Sistem jalan umum dilayani oleh angkutan bus resmi dan berbagai
perusahaan taksi berizin. Angkutan bus umum telah menjadi topik kritik oleh
sejumlah warga Singapura, kebanyakan di antaranya memanfaatkan sistem ini untuk
perjalanan komuter sehari-hari. Sejak
1987, sistem metro kereta penumpang Mass Rapid Transit (MRT)
telah dioperasikan. Sistem MRT semakin dilengkapi oleh sistem kereta ringan Light Rail Transit (LRT),
dan meningkatkan keteraksesan ke kawasan permukiman. Didirikan tahun 2001,
sistem EZ-Link memungkinkan kartu pintar digunakan
sebagai tiket alternatif yang digunakan pada sistem angkutan umum di Singapura.
Singapura merupakan sebuah hub transportasi
internasional di Asia karena letaknya di berbagai rute perdagangan laut dan
udara.
Pelabuhan Singapura, dikelola oleh operator
pelabuhan PSA International dan Jurong Port, adalah
pelabuhan tersibuk kedua di dunia pada 2005 menurut tonase pengapalan yang
ditangani, yaitu sebesar 1,15 milyar ton kasar, dan menurut
lalu lintas kontainer, yaitu sebanyak
23,2 juta satuan dua puluh kaki (TEU).
Pelabuhan Singapura juga merupakan yang tersibuk kedua di dunia menurut tonase
kargo, setelah Shanghai dengan 423 juta ton. Selain itu, Singapura
merupakan pelabuhan tersibuk pertama di dunia menurut lalu lintas lintas pengapalan dan
pusat pengisian bahan bakar kapal terbesar di dunia.
Singapura adalah hub penerbangan untuk
kawasan Asia Tenggara dan perhentian untuk rute Kangguru antara Australasia dan Eropa. Bandar Udara Changi Singapura memiliki
jaringan seluas 80 maskapai penerbangan yang menghubungkan Singapura ke 200
kota di 68 negara. Bandara ini telah dimasukkan sebagai salah satu bandara
internasional terbaik oleh berbagai majalah perjalanan internasional, termasuk
sebagai bandara terbaik di dunia untuk pertama kalinya oleh Skytrax pada
tahun 2006.
Bandar Udara Changi saat ini memiliki tiga
terminal penumpang. Terdapat juga sebuah terminal bertarif rendah, yang
melayani maskapai bertarif rendah Tiger Airways dan Cebu Pacific.
Maskapai penerbangan nasionalnya ialah Singapore Airlines (SIA), maskapai yang
paling banyak mendapatkan penghargaan di dunia. Bandar Udara Changi Singapura diswastanisasikan
pada tahun 2009 dan saat ini dimiliki sepenuhnya oleh Changi Airport Group.
LPI ( Logistics Performance Index )
LPI merupakan indeks kinerja logistik
negara-negara di dunia yang dirilis oleh World Bank per dua tahun sekali.
LPI (
Logistics Performance Index ) memiliki 6 dimensi yaitu :
1. Custom ( Bea dan Cukai )
2. Infrastructure ( Infrastruktur )
3. Ease of international shipments ( Pengiriman barang
internasional )
4. Logistic competence and quality ( Kualitas dan kompetensi
logistik )
5. Tracking and tracing ( Pencarian barang )
6. Timeliness ( Ketepatan waktu )
Analisis dimensi Logistic performance
index pada tahun 2012 di Indonesia
1.
Bea cukai berada diperingkat 75 dengan skor 2,53
2.
Infrastruktur berada diperingkat 85 dengan skor 2,54
3.
Pengiriman barang internasional berada diperingkat 57 dengan
skor 2,97
4.
Kualitas dan kompetensi logistik berada diperingkat 62 dengan
skor 2,85
5.
Pencarian barang berada diperingkat 52 dengan skor 3,12
6.
Ketepatan waktu berada diperingkat 42 dengan skor 3,61
Analisis dimensi Logistic performance
index pada tahun 2014 di Indonesia
1.
Bea cukai berada diperingkat 55 dengan skor 2,87
2.
Infrastruktur berada diperingkat 56 dengan skor 2,92
3.
Pengiriman barang internasional berada diperingkat 74 dengan
skor 2,87
4.
Kualitas dan kompetensi logistik berada diperingkat 41 dengan
skor 3,21
5.
Pencarian barang berada diperingkat 58 dengan skor 3,11
6.
Ketepatan waktu berada diperingkat 50 dengan skor 3,53
Analisis dimensi Logistic performance
index pada tahun 2016 di Indonesia
1.
Bea cukai berada diperingkat 69 dengan skor 2,69
2.
Infrastruktur berada diperingkat 73 dengan skor 2,65
3.
Pengiriman barang internasional berada diperingkat 71 dengan
skor 2,90
4.
Kualitas dan kompetensi logistik berada diperingkat 55 dengan
skor 3,00
5.
Pencarian barang berada diperingkat 51 dengan skor 3,19
6.
Ketepatan waktu berada diperingkat 62 dengan skor 3,46
Analisis dimensi Logistic performance
index pada tahun 2018 di Indonesia
1.
Bea cukai berada diperingkat 62 dengan skor 2,67
2.
Infrastruktur berada diperingkat 54 dengan skor 2,90
3.
Pengiriman barang internasional berada diperingkat 42 dengan
skor 3,23
4.
Kualitas dan kompetensi logistik berada diperingkat 44 dengan
skor 3,10
5.
Pencarian barang berada diperingkat 39 dengan skor 3,30
6.
Ketepatan waktu berada diperingkat 41 dengan skor 3,67
Pendapat
dan saran atas trend score dimensi infrastruktur
Menurut worldbank, peringkat infrastuktur dalam
Logistic performance Index ( LPI ) di Indonesia pertama kali pada tahun 2007
peringkat 45 dengan skor 2,83 kemudian peringkat infrastuktur pada tahun 2010
mengalami penurunan yang sangat signifikan menjadi peringkat 69 dengan skor
2,54 sedangkan pada tahun 2012 mengalami penurunan kembali menjadi peringkat 85
dengan skor 2,54 kemudian mengalami kenaikan yang sangat signifikan pada tahun
2014 dengan peringkat 56 dengan skor 2,92 ,pada tahun 2016 mengalami penurunan
kembali menjadi peringkat 73 dengan skor 2,65 kemudian pada tahun 2018 mengalami kenaikan kembali menjadi peringkat 54 dengan
skor 2,90 . Namun kenaikan ini tidak diimbangi perbaikan sarana dan
prasarana infrastruktur yang baik . masih banyak jalur pelayaran yang tidak
efektif kondisi jalan yang tidak baik kuantitas maupun kualitas diantaranya
tidak adanya hubport , infrastruktur logistik nasional belum dikelola secara
terintegrasi, efektif dan efisien hal ini mengakibatkan belum efektifnya
intermodal transportasi dan interkoneksi antara infrastruktur pelabuhan,
pergudangan , transportasi. Sedangkan dari segi pelaku dan penyedia jasa logistik
rendahnya kinerja sektor ini disebabkan oleh masih terbatasnya kemampuan daya
saing pelaku dan penyedia jasa logistik nasional baik pada tataran nasional
maupun global, lemah nya jaringan nasional dan internasional dan besarnya
dominasi perusahaan-perusahaan multinasional.
Menurut pendapat saya terjadi peningkatan infrastruktur yang sudah mulai
membaik sebagai hasilnya Indonesia mengalami peningkatan dalam Indeks performa
Logistik tahun 2018 ke posisi 46 dari posisi 63 dibandingkan tahun sebelumnya.
meskipun belum dibarengi ongkos logistik
yang masih terbilang tinggi dengan negara lainnya dan juga kinerja
logistik di Indonesia belum mampu bersaing dengan negara tetangga.
Dan saran saya adalah jika ingin dimensi infrastruktur tidak dibawah
rata-rata 3.15 maka hal yang harus diperhatikan yaitu biaya logistik yang
terlalu tinggi karena biaya logistik yang terlalu tinggi akan menghambat
pembangunan ekonomi. Oleh sebab itu, pemerintah harus menurunkan biaya logistik
di Indonesia dan juga pemerintah harus memperbaiki kinerja logistik agar
Indonesia dapat bersaing dengan negara tetangga.
Pengaruh
kondisi infrastruktur terhadap biaya distribusi
Kondisi Insfrastuktur saling berkaitan dengan biaya distribusi di
Indonesia apabila di Indonesia Kondisi Infrastruktur baik maka biaya distribusi
akan menjadi murah dan apabila kondisi infrastruktur belum terjangkau maka
biaya distribusi akan menjadi mahal.
Ketika keadaan infrastruktur disebuah negara
lemah, itu berarti bahwa perekonomian negara berjalan dengan cara yang sangat
tidak efisien. Biaya logistik yang sangat tinggi, berujung pada perusahaan dan
bisnis yang kekurangan daya saing (karena biaya bisnis yang sangat tinggi).
Biaya logistik yang sangat tinggi indonesia bisa menyebabkan perbedaan harga
yang substansial diantara provinsi-provinsi di nusantara. Contoh, beras jauh
lebih mahal di Indonesia bagian timur dari pada jawa atau sumatera, karena
biaya tambahan yang timbul dari titik produksi ke end user. Jaringan
perdagangan yang lemah di Indonesia, baik antar pulau dan intra-pulau
menyebabkan tekanan inflasi berat pada produk yang diproduksi dalam negeri.
Saat ini transportasi laut lebih mahal daripada transportasi darat, karena
infrastruktur maritim di Indonesia belum dikembangkan secara substansial.
Distribusi barang sebaiknya tidak dititik
beratkan pada distribusi penggunaan transportasi darat pemerintah harus segera
mengatur manajemen transportasi multimoda. Masih rendahnya kualitas dan
kuantitas infrastruktur transportasi yang ada dapat memperlambat waktu pengiriman
hal ini tentu saja dapat menurunkan index logistik yang ada khususnya dari
sektor infrastruktur. Peningkatan peringkat LPI diharapkan dapat menurunkan
biaya logsitik secara signifikan. Hal ini dapat menurunkan harga produk,
sehingga dapat meningkatkan biaya saing produk dan daya beli masyarakat.
Saran
atau perbaikan atas dimensi lainnya
-
Ke-empat dimensi ini memiliki hubungan yang saling
berkesinambungan yaitu ( Bea Cukai, Pengiriman barang internasional, Kualitas
& kompetensi logistik, dan Pencarian barang )
Sistem pertukaran data
elektronik manifest (Dokumen Muatan Barang) yang terus disempurnakan DITJEN BEA
CUKAI melalui Peraturan Menteri Keuangan no.158/2017 akan dapat memperbaiki
kinerja logistik indonesia. PMK no.158/2017 mengatur tentang penyerahan
pemberitahuan rencana kedatangan sarana pengangkut, manifest kedatangan sarana
pengangkut dan manifest keberangkatan sarana pengangkut. Kebijakan bea cukai
yang mengarah pada trade facilitation sudah tepat, sehingga dapat mempercepat
proses impor dan ekspor . Perdagangan internasional akan terakselerasi dengan
baik.
-
Dimensi ketepatan waktu
Dalam hal ketepatan waktu
ini sangat penting terhadap pengiriman barang/proses distribusi ke tangan
konsumen. Misalnya jika ingin mengirim barang maka ketepatan waktu ini harus
diperhatikan agar konsumen puas terhadap pelayanan yang kita berikan dan
konsumen tersebut akan memakai/menggunakan produk dari kita lagi. Dalam dimensi
ini kita perlu bekerja sama dan berintegrasi dengan pengelola transportasi,
penyedia jasa angkutan, dan pihak terkait.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar