Minggu, 21 April 2019

iqbalfaturrahman.blogspot.com2.analisis dari 6 dimensi mengenai logistik performance index Peringkat Indonesia dalam laporan survei Logistics Performance Index (LPI) 2014 naik enam tingkat ke posisi 53, dari sebelumnya peringkat 59. Meski demikian, laporan LPI yang telah tersebar itu masih belum mendapat konfirmasi resmi dari Bank Dunia, sebagai lembaga yang melakukan survei logistik tersebut sejak 2007 lalu. Dalam laporan yang telah diunggah dari laman resmi Bank Dunia, Indonesia mendapat peringkat 53, dengan persentase rata-rata 66,7%. Indonesia masih berada di kategori negara yang memiliki pendapatan menengah-bawah, bersama sesama negara Asean, Vietnam. Pada laporan dwi tahunan itu, Indonesia berhasil meningkatkan skor rata-rata logistik dari 2,94 menjadi 3,08. Sementara pada survei LPI 2010, Indonesia hanya mencatatkan skor rata-rata 2,76. Di lain pihak, peningkatan peringkat LPI itu masih dianggap kurang memuaskan oleh pelaku jasa logistik. Menurut pelaku usaha, peningkatan peringkat itu tidak bisa dijadikan ukuran perbaikan kinerja logistik nasional, khususnya dibandingkan dengan negara-negara Asean. Laporan tersebut menempatkan Singapura di peringkat 5, Malaysia peringkat 25, dan Thailand peringkat 35. Indonesia hanya berdekatan dengan Vietnam di peringkat 48. "Kita hanya lebih baik dari Filipina, Myanmar dan Laos. Sebenarnya cukup memalukan untuk Indonesia sebagai negara terbesar di Asean," ujar Zaldy Masita, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI). Menurutnya, dari enam komponen yang diukur di dalam LPI, terdapat masalah paling besar yaitu sektor pelabuhan. "Karena komponen custom, infrastructure dan international shipment berada di bawah rata-rata LPI Indonesia," tutur Zaldy. Laporan berjudul Connecting to Compete 2014: Trade Logistics in the Global Economy, berdasar laman resmi Bank Dunia, telah memeringkat 160 negara. Mereka mengukur dari berbagai dimensi perdagangan, termasuk customs peformance, kualitas infrastruktur, dan waktu pengiriman barang. Data diperoleh dari survei terhadap 1.000 orang profesional logistik."LPI mencoba menyoroti realitas yang kompleks dari rantai pasok," terang Jean Francois Arvis, Ekonom Senior bidang Transportasi dan Penggagas proyek LPI. Untuk kategori penghasilan menengah, laporan ini menyebutkan telah terjadi perkembangan positif, seperti adanya kemajuan pasar logistik. Umumnya negara kategori ini, mempunyai spesialisasi fungsi, seperti transportasi, mitra pengiriman, dan pergudangan. "Anda tidak dapat sekadar membangun infrastruktur tanpa membangun sistem pengelolaan, sebab sangat sulit dengan adanya banyak pihak berkepentingan," kata Arvis. Indonesia belum boleh berpuas diri atas kenaikan peringkat indeks kinerja logistik karena masih kalah dari sejumlah negara Asean. Berdasarkan Logistic Performance Index (LPI) 2018 yang baru saja dirilis World Bank, Indonesia berada di peringkat 46 dengan skor 3,15 atau naik dari posisi 2016 yang ada di rangking 63 dengan skor 2,98. Peningkatan tersebut merupakan capaian signifikan meskipun belum dibarengi dengan penurunan ongkos logistik Indonesia yang masih terbilang tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain. Lembaga riset dan pendidikan Supply Chain Indonesia (SCI) menyatakan walaupun secara keseluruhan peringkat LPI Indonesia membaik, tapi di sisi lain posisi Indonesia di antara negara-negara Asean lainnya justru turun dari peringkat 4 menjadi peringkat 5. "Indonesia tidak bisa berpuas diri atas peningkatan LPI-nya pada 2018. Perbaikan LPI negara-negara Asean lainnya yang lebih baik menunjukkan peningkatan dukungan logistik yang lebih tinggi terhadap daya saing produk dan komoditasnya," kata Chairman SCI Setijadi kepada Bisnis, Rabu (25/7/2018). Data LPI 2018 menunjukkan Thailand naik 13 peringkat menjadi rangking 32, Vietnam merangsek ke posisi 39 setelah naik 25 peringkat, Filipina berada di posisi 60 setelah naik 11 peringkat, dan Laos naik 70 peringkat ke posisi 82. Sementara itu, Singapura turun 2 peringkat ke rangking 7, Malaysia turun 9 peringkat ke posisi 41, Kamboja berada di rangking 98 setelah turun 25 peringkat, dan Myanmar turun 24 peringkat ke posisi 137. Adapun Brunei berada di rangking 80. Pada 2016, negara di utara Kalimantan ini tidak termasuk negara yang disurvei. Setijadi menuturkan peningkatan skor Indonesia terutama didukung oleh pertumbuhan dimensi pengiriman internasional (international shipments) sebesar 0,33 poin atau 11,4%, infrastruktur 0,25 poin atau 9,4%, dan ketepatan waktu (timeliness) sebesar 0,21 poin atau 6,1%. Selanjutnya, dimensi pencarian barang (tracking/tracing) sebesar 0,11 poin atau 3,4% serta kualitas dan kompetensi logistik sebesar 0,1 poin atau 3,3%. "Sementara itu, dimensi kepabeanan mengalami penurunan 0,02 poin atau 0,7%," sebutnya. Menurut Setijadi, analisis per dimensi itu menunjukkan dampak positif di sektor logistik dari hasil pembangunan infrastruktur dan peningkatan konektivitas yang tengah gencar dilakukan pemerintah. Kendati demikian, perlu adanya sejumlah perbaikan agar kinerja logistik Indonesia bisa bersaing terutama dengan negara tetangga. "Atas penurunan skor dimensi kepabeanan, perlu dilakukan analisis lebih lanjut sebagai tahap awal upaya perbaikannya," tegasnya. LPI 2018 menempatkan Jerman di peringkat pertama dengan skor 4,2. Swedia menyusul di posisi berikutnya dengan 4,05 poin, Belgia dengan 4,04 poin, serta Austria dan Jepang dengan 4,03 poin. 3.pendapat saya terhadap logistic performance index terhadap infrastruktur 2018jauh sekali terhadap negara lain infrastruktur di negara ini sangat lemah,saran saya terhadap ifrastruktur harus ditingkatkan lagi khususnya di daerah-daerah terpencil yang ada di plosok indonesia 4.pengaruh kondisi infrastruktur terhadap biaya distribusi indonesia a. Memperlancar arus distribusi barang atau jasa dari Semarang ke kota-kota lain di pulau Jawa atau luar jawa b. Memperlancar kegiatan ekonomi dan menjadikan komunikasi bisnis bisa lebih efektif antar pulau dari pulau Jawa dan Pula lainnya di luar jawa c. Aktivitas manusia dari satu daerah ke daerah lain dapat berjalan dengan lebih cepat karena manusia menginginkan waktu yang efektif dan efisien. d. Memicu pemerataan pembangunan di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya e. Membuka lapangan pekerjaan baru bagi pedagang kaki lima untuk berdagang di sepanjang jalan 5.saran perbaikan terhadap logistic performance index pada 5 dimensi,untuk selalu di tingkatkan terhadap kegiatan logistic yang ada di indonesia dan sangat pengaruh terhadap kegiatan distribusi barang/jasa di negara ini jdi terhambat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar